Mengolah dan Memilah ‘Arsip Visual’ di Kepala.

Pada malam hari, tanggal 23 Oktober 2012, punyavisual melakukan perbincangan dengan Dian ‘Ageung’ Komala, salah seorang pengkarya yang karya-karyanya juga dimuat dalam blog ini. Tema percakapan ialah tentang pemahaman dan definisi visual menurut Ageung (sapaannya). Percakapan ini berlangsung melalui Yahoo Messenger.

Sedikit tentang Ageung, ia adalah salah seorang jurnalis warga yang sekarang ini aktif berkegiatan di Forum Lenteng, pada program akumassa. Tulisan-tulisan Ageung di akumassa dapat di baca di sini!

Berikut ini hasil percakapan punyavisual dengan Ageung, yang telah disesuaikan berdasarkan kepentingan referensi dan diskusi tentang visual. Selamat membaca!

***

Salah satu gambar yang dibuat oleh Ageung dalam karya berjudul “Sang Sapi”.

Jadi, waktu kita tanya lo tentang diary-visual, apa yang lo bayangkan?

Gue langsung kebayang Sang Sapi karena itu awal mula dari diary-visual.

Mengapa justru karya awal di diary-visual yang lo inget?

Ya, namanya juga bayangan spontan, ya munculnya itu.

Oke, kalau misalnya kami menyebut kata “visual”, apa yang terlintas dalam pikiran lo? Yang kita maksud bukan yang spontan ya…atau dengan kata lain, pertanyaannya: apa yang lo pahami tentang visual?

Visual itu gambar… pikiran, gue sebut visual juga, bayangan, apalagi. Semua yang kita lihat dengan mata itu visual, dan rekaman-rekaman dari penglihatan itu, visual juga. Asik, ye!

Terus, mengapa “Sang Sapi” ketika kita mulai membahas “diary-visual”?

Karena di situ gue mulai mempublikasikan hasil visual dari rekaman visual gue tentang filem “Sang Sapi”[1] yang gue tonton.

Yang kami tangkap dari jawaban lo, ketika istilah “diary-visual” disebut, lo langsung mengaitkannya dengan blog “diary-visual”.[2] Nah, sekarang kita mau tanya, menurut lo “diary-visual” itu sendiri sebagai sebuah ide, apa sih?

Bukan cuma merujuk ke blog…

Terus?

Maksud gue gini, “diary visual” itu lebih ke “belajar menggambar”. Diary visual itu, catatan harian dari visual untuk visual…

Apa itu “catatan harian dari visual untuk visual”?

Yang tadi gue bilang, catatan berdasarkan dari rekaman-rekaman visual yang ditumpahkan dalam bentuk karya visual. Gue punya pengalaman, pengalaman itu gue share dalam bentuk nyata dalam gambar; pengalaman itu gue bekukan dalam bentuk gambar.

Apa yang lo maksud sebagai “rekaman-rekaman visual”? Terus, ketika lo berkata tentang “pengalaman”, apakah itu berarti bahwa “rekaman-rekaman visual” yang lo maksud merupakan bagian dari “pengalaman” itu? Atau apakah itu merupakan dua hal yang berbeda?

Pengalaman-pengalaman itu, kan menjadi rekaman-rekaman visual.

Kalau begitu, ingatan atau memori, menurut lo adalah “rekaman visual”?

Iya.

Ageung saat sedang menggambar dinding ruangan kerja akumassa, Forum Lenteng.

Ageung saat sedang menggambar dinding ruangan kerja akumassa, Forum Lenteng.

Bagaimana dengan suara atau audio?

Bisa jadi visual juga.

Maksudnya? Atau coba kasih ke kita satu contoh, deh…!

Misalnya, lu denger suara kendaran-kendaraan di jalan raya sana. Lu bakal langsung kebayang jam segini, pasti macet, gak mungkin kalau enggak!

Dan “bayangan” itu, bayangan “jalan macet”, adalah visual?

Oke, gini… bayangan itu adalah penggambaran, visual bisa kita artikan gambar. Jadi…?

Kami memahaminya seperti ini: ketika kita duduk di perpustakaan Forum Lenteng dan mendengar suara kendaraan yang bergemuruh sekitar pukul 5 sore, kita akan membayangkan “jalan macet” tanpa perlu melihatnya, karena kita udah sering melihat bahwa pada jam segitu memang biasanya macet. Hal itu bisa terjadi karena pengalaman kita sebagai warga di Jalan Lenteng Agung Raya. Situasi yang demikian menempel di dalam kepala kita menjadi sebuah rekaman-rekaman keseharian dalam bentuk visual, dan ketika kita mendengar suara yang berkaitan dengan itu, maka akan muncul visual yang lebih kurang serupa. Apakah seperti itu yang lo maksud sebagai “rekaman-rekaman visual” dan “pengalaman”? Atau lo bisa memberikan contoh lainnya?

Itu juga bisa, tapi akan beda lagi kalo misalnya lu mendengar suara aneh, yang nggak pernah lu denger. Lu bakal menduga-duga suara itu apa. Dari praduga itu, akan muncul visual-visual yang bermacam-macam…

Nah, kalau keadaan seperti itu, di mana aspek pengalamannya?

Visual-visual yang bermacam-macam itu akan timbul karena pengalaman… justru akan memunculkan kembali pengalaman-pengalaman yang berlainan… bukan berlainan, mungkin, tapi lebih tepat bermacam-macam.

Dengan kata lain, pengalaman-pengalaman visual kita yang lain, katakanlah pada waktu yang lain di luar waktu ketika mendengar suara yang aneh itu, akan mempengaruhi bayangan (atau visual) yang kita pikirkan saat mendengar suara itu?

Tentu saja.

Lalu mengapa lo menuangkannya dalam visual juga?

Apa, nih yang dituangkan?

Tadi lo mengatakan “catatan berdasarkan rekaman-rekaman visual yang ditumpahkan dalam bentuk karya visual”… mengapa melalui karya visual juga?

Gue suka visual, bisa dilihat.

Mengapa lo menyukai visual? Mengapa lo menyukai “hal yang bisa dilihat”? Bagaimana dengan “hal yang bisa didengar”?

Mungkin karena gue terlalu suka dengan dengan visual itu, makanya gue sampai sekarang kurang menikmati musik. Nah, itu gue gak tahu kenapa…

Ya, alasannya sukanya apa? Mengapa bisa suka dengan visual?

Mungkin karena gue suka pengalaman. Pengalaman itu jadiin visual-visual yang gue punya bertambah terus, dan secara gak langsung gue jadi suka sama visual… gitu kali…!

Mengapa tidak dengan cara lain? Maksud kami… bukan dengan visual?

Apalagi yang bisa dinikmati oleh mata selain visual?

Tapi orang juga bisa menikmati sesuatu dengan telinga, kan? Hahaha!

Nah, itu dia, gue gak terlalu suka dengan suara karena dari dulu gue punya masalah dengan telinga.

Masalahnya?

Budeg. Hahaha!

Serius lo?

Iye, beneran!

Lah, terus sekarang buktinya lo bisa denger kalau kita ngomong, kan? Budeg apaan?

Gue bukan pendengar yang baik. Ya, contohnya, gue kurang bisa mencerna apapun yang berasal dari suara.

Salah satu gambar Ageung, dalam karya kolaborasinya bersama Maher, “Angin Akan Membawa Kita”.

Apa yang biasanya lo tangkap dari visual? Atau, lebih tepatnya, apa yang lo cerna dari sebuah visual?

Yang pasti, bentuk.

Bentuk? Maksudnya?

Dalam visual itu ada bentuk.

Terus, ada apa dengan bentuk?

Ada apa dengan bentuk…? Kalau gak ada bentuk, mungkin dia gak akan jadi visual

Kami ingin tahu lebih jauh, tentang visual atau hal-hal yang lo lihat, apa yang biasanya lo cerna dari yang lo lihat itu? Atau, mengapa justru bentuk yang menjadi perhatian lo ketika menghadapi sebuah visual?

Pertama, visual itu dapat melatih penglihatan. Kedua, visual itu bisa berdasarkan dari berbagai macam medium. Ketiga, visual bisa merangsang rasa keingintahuan gue. Keempat, dan sebagainya yang sekarang gak bisa gue jabarin, dalam visual pasti ada bentuk. Meskipun visual itu abstrak, justru si abstrak itulah yang menjadi bentuk… menurut gue, sih… Mungkin, jabaran gue tentang visual itu… lebih ke fungsi mata.

Fungsi mata? Maksudnya?

Ya, menurut gue, penjelasan panjang lebar gue dari tadi, tuh lebih ke visual berdasarkan fungsi mata. Satu-satunya yang bisa ditangkap oleh mata adalah visual.

Mengapa lo mempersoalkan fungsi mata? Ada apa dengan mata, atau indera penglihatan?

Kita bisa menikmati visual itu karena adanya mata. Beda dengan orang yang gak punya mata  atau buta. Mereka gak bisa menikmati visual.

Tapi bukankah ketika melihat itu, kita juga bisa menemukan sesuatu yang tidak enak?

Tapi, sesuatu yang tidak enak itu visual juga.

Ya, visual juga, tapi, kan tidak enak dipandang mata…?! Itu bagaimana?

Ya, menikmati itu gak harus selalu enak, kan?! Justru itu, kan bisa ngebawa kita buat nyari tahu kenapa itu gak enak.

Bagaimana mencari tahunya?

Kalau gue, sih biasanya akan nyari tahu kenapa itu gak enak dengan cara melihat bagian-bagiannya. misalnya, kalau gue lagi makan masakan yang gak enak, gue akan pelajarin bumbu apa aja yang ada di dalam makanan itu sampai akhirnya gue tahu, bumbu apa yang bikin gak enak.

Terus, kalau udah tahu? Kalau misalnya sudah tahu, lalu apa? Lagi pula makanankan dirasa oleh lidah, bukan penglihatan…

Nah, gue kasih contoh itu, karena gue gak bisa jelasin yang dilihat… karena menurut gue, semua visual itu menyenangkan.

Oke, lupakan makanan! Pertanyaannya, kalau misalnya lo udah tahu sesuatu yang “gak enak” itu, lantas apa?

Ya, emang sesuatu yang gak enak itu harus diapakan? Dibuang? Ya, enggak! Mau gak mau, dia udah ada dikepala gue, udah jadi arsip baru buat ingatan gue, gak bisa diapa-apain lagi. Mungkin ketika nanti gue inget visual itu, gue cukup dengan bilang, “Kalau itu gak enak!”

Terus, apa gunanya mencari tahu kalau hanya begitu? Kalau misalnya jadi ‘arsip’ di kepala, apa gunanya dan apa pentingnya ‘arsip’ itu? Apa dibiarkan begitu saja?

Kalau gue menyebutnya dengan istilah ‘pembendaharaan visual’…?

Ya, apa gunanya ‘pembendaharaan visual’ itu? Maksud kami begini… kalau kita berbicara tentang uang, ada bendaharanya. Kan, jelas tuh, gunanya untuk menabung uang dan nantinya uang itu bisa digunakan untuk segala hal: membuka usaha, membeli barang, investasi, dan sebagainya. Kalau “bendahara visual”, apa gunanya?

Ya, pasti berguna lah! Mungkin, gini, ya… kalo muluk-muluknya, bisa jadi kayak gini… paling enggak gue tahu mana yang “enak dipandang” dan mana “yang nggak”. Berarti, gue harus membuat karya yang bisa enak dipandang dan bisa dinikmati mata ataupun pikiran.

Kalau begitu, visual-visual itu, dan ‘arsip-arsip’ itu, hanya berguna untuk lo seorang, dong?

Jelas enggak, lah! Emangnya gue masturbasi?!

Hahahaha!

Ya, paling enggak, gue bisa membuat karya yang enak dipandang menurut gue. Untuk orang lain, gue menyerahkan sepenuhnya kepada mereka.

Apakah itu bisa dibilang alasan lo mengapa membuat karya visual?

Bukan alasan, tapi lebih ke cara gue, mungkin.

Cara? Bisa lebih dijelasin lagi, gak, yang lo maksud sebagai cara ini, apa?

Cara gue membuat karya, dengan arsip yang ada di kepala gue, mana yang enak dipandang, dan mana yang nggak enak dipandang…

Lantas?

Lantas, karya itu bisa dihasilkan berdasarkan pengalaman yang enak dan yang tidak enak itu.

Dengan kata lain, dengan ‘arsip-arsip’ itu, lo mengolah dan memilah kemudian membuat visual yang ‘baru’?

Ya, bisa dibilang begitu.

Kami menangkap bahwa ada sikap “sharing” atau “saling berbagi pengalaman” di sini. Tapi pertanyaan selanjutnya, dalam hal ini, mengapa melalui visual, caranya? Bagaimana dengan tulisan?

Emang tulisan itu bukan visual?

Hahahaha!

Salah satu gambar yang dibuat Ageung dalam karya berjudul “Solaris”.

Nah, tadi lo sempat bilang kalau visual itu menarik karena bisa disajikan melalui beragam medium. Medium apa saja yang lo kenal, dengan akrab?

salah satunya, tulisan. Gambar, video,…ya lu pada tahu lah yang lainya… hahaha!

Di blog diary-visual, mengapa lo memilih cara dengan menggambar?

Sebenernya, kan itu cara gue untuk memilah arsip-arsip yang gue puya untuk dipublikasikan dalam blog. Gue punya 4 blog.

Apa aja?

Satu, khusus tulisan-tulisan. Dua, khusus untuk foto-foto. Tiga, khusus untuk video. Empat, ya, khusus untuk visual yang gue bikin (gambar). Intinya, semua blog gue itu adalah blog visual. Hahahaha!

Bisa disebutin, gak nama-namanya?

Pabrik dan Aku, tulisan-tulisan tentang kampung gue, Sukabumi. Lihatan, foto-foto yang merekam sekitar, di mana pun. Konser Jalanan, rekaman-rekaman pengamen. Diary Visual, catatan harian dengan menggambar.

Bisa lo jelasin lebih detail, gak, dari sudut pandang ide atau gagasan, apa yang membedakan antara karya visual lo yang menggambar dengan karya visual lo yang ‘memencet tombol’…? Karena menurut kami, di titik ini, kita tidak lagi hanya berbicara tentang ‘mata’, tetapi juga bagian tubuh lain yang juga ikut berkontribusi dalam penciptaan karya visual… Selain itu, pertanyaan yang mengiringi selanjutnya, apakah visual yang lo hasilkan dari ‘alat yang harus memencet tombol’ adalah berasal dari ‘arsip’ lo itu? Karena, kan kalau gambar, jelas tuh, lo membayangkan, mereka-reka, lalu menggoreskannya, di atas kertas misalnya. Tapi kalau alat yang ‘memencet tombol rekam’, lo melihat, lalu menangkap visual itu langsung dengan alatnya… itu bagaimana?

Menurut gue, sih, ada bedanya. Gini, menggambar itu benar-benar berdasarkan dari pengalaman yang menjadi arsip itu. Kalau yang memakai tombol itu, berdasarkan pengalaman, tapi itu hanya jadi modal, lainnya gue serahin ke lapangan. Gue kasih contoh, misalnya, gue pengen gambar kambing, kambingnya gue kasih warna belang-belang sapi, kakinya gue kasih sirip ikan, telinganya gue kasih telinga kelinci. Bagian-bagian itu berdasarkan arsip. Berbeda dengan kalau misalnya gue motret atau merekam dengen tombol itu. Gue mau motret lu lagi mangap, karena gue punya pengalamaan lu suka mangap, tapi pas lagi gue potret, lu belum tentu lagi mangap.

Hm….! Lalu, kalau misalnya sesuatu di lapangan itu tidak sesuai dengan apa yang sedang lo bayangkan ketika sedang akan ‘membuat visual’, dalam hal ini ‘merekam’,… itu bagaimana?

Gak ada masalah buat gue. Paling tidak, lokasi itu yang gue pengen. Makanya, gue mau buat visual itu karena sebenarnya, biasanya, gue lebih tertarik dengan lokasi…, karena di setiap lokasi pasti ada suasana atau peristiwa massa meskipun itu gak sesuai dengan yang gue bayangin.

Jadi, keadaan yang tidak sesuai itu tidak jadi masalah?

Enggak, karena di situ letak perbedaan dari gue menggambar dengan gue memotret.

Jadi lo menggambar…?

Dengan menggambar, gue bisa langsung membekukan mereka sesuai dengan bayangan gue. Gue gak harus menunggu momen-momen yang gue suka sebelumnya.


[1] Sang Sapi, judul aslinya adalah “The Cow” atau Gāv, karya Dariush Mehrjui (1969).

[2] Diary-visual (diaryvisual.blogspot.com) merupakan sebuah blog yang pernah dikelola oleh Dian Komala dan Maher. Blog tersebut berisikan karya-karya gambar Dian dan Maher. Sekarang, diary-visual diinisiasi oleh Dian menjadi punyavisual.wordpress.com dibantu oleh Lulus Gita Samudra (sekretaris redaksi akumassa.org dan Manshur Zikri, mahasiswa FISIP UI).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s